Senin, 22 Oktober 2018



Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan memakai malam merupakan salah satu aliran seni kuno. Penemuan di Mesir membuktikan bahwa teknik ini sudah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membuat pola. Di Asia, teknik sejenis batik juga diterapkan di Tiongkok sewaktu Dinasti T’ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik serupa batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat tenar akhir abad 18 atau awal abad 19. Batik yang dihasilkan adalah semuanya batik tulis sampai awal abad 20 dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau kurang lebih tahun 1920-an.
Walaupun kata “batik” berawal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di segi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah itu bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme namun diketahui mempunyai tradisi kuna membuat batik.
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing telah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa corak seperti ini hanya bisa dibentuk dengan memakai alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa itu. Detil ukiran kain yang mirip pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang serupa dengan pola batik tradisional Jawa yang bisa ditemukan saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat corak batik yang rumit yang hanya bisa dibuat dengan canting sudah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India supaya mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu melaksanakan perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Tapi sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya sanggup membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir, serasah itu diartikan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa sewaktu Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel mempersembahkan selembar batik ke Museum Etnik di Rotterdam yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Semenjak dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Hugh Clifford merekam industri di Pekan tahun 1895 untuk menghasilkan batik, kain pelangi, dan kain telepok.



EmoticonEmoticon